Thursday, July 16, 2020

BAB 1 IMAN KEPADA HARI AKHIR BAGIAN 1

A. PENGERTIAN BERIMAN KEPADA HARI AKHIR
Beriman kepada hari akhir adalah percaya dengan sepenuh hati bahwa suatu saat alam semesta dan seisinya akan hancur dan berakhir. Kehidupan selanjutnya di alam akhirat. Kehidupan akhirat tiada pernah berakhir. Kehidupan dunia hanya sementara. Dunia hanya tempat menguji manusia apakah manusia mau berbuat baik atau tidak. Jika manusia selama hidup di dunia mau beribadah kepada Allah Swt. dan mau berbuat baik karena Allah Swt., maka kelak di akhirap akan bahagia yaitu masuk surga. Begitu sebaliknya, jika manusia selama hidup di dunia tidak mau beribadah kepada Allah Swt. dan enggan berbuat baik, maka akan mengalami kesengsaraan dan siksaan yaitu masuk neraka.

3 (tiga) golongan yang berpendapat tentang hari akhir sebagai berikut: 
1. Golongan atheis, yaitu golongan manusia yang mengingkari atau tidak mempercayai adanya hari akhir, juga disebut mulhid (tidak mempercayai adanya tuhan). 
2. Golongan agama ardli, yaitu golongan manusia yang mempercayai adanya reinkarnasi yaitu penjelmaan roh manusia. Golongan agama ardhi yaitu golingan agama yang dibuat oleh manusia. 
3. Golongan agama samawi, yaitu golongn manusia yang mempercayai adanya hari akhir dan adanya kehidupan akhirat. Golongan ini dianut oleh pemeluk agama yang berasal dari Allah Swt.)

B. DALIL BERIMAN PADA HARI AKHIR
 1. DALIL AQLI 
Tidak ada sesuatu yang kekal di dunia ini. Begitu pula alam semesta dan segala isinya akan mengalami kerusakandan kehancuran. Sesungguhnya yang kekal hanyalah Allah Swt. Semua makhluk ciptaan Allah tidak ada yang abadi, termasuk dunia ini. Oleh karena itu sangatlah masuk akal jika suatu saat nanti dunia ini akan mati, hancur, dan berakhir. Itulah yang disebut hari akhir. 
Para pakar ilmu pengetahuan mengaakan bahwa matahari sebagai sumber energi dalam bentuk bola api yang sangat besar dan sangat panas suatu saat akan kehilangan cahayanya. Mula-mula ditandai dengan keadaannya yang semakin mengecil karena setiap detik matahari kehilangan beratnya sekitar 4.000.000 ton. Lalu habis dan jelaslah gelap gulita alam semesta beserta isinya, termasuk bumi yang kita tempati. Di sinilah alam semeste mengalami kehancuran yang disebut hari akhir (hari kiamat).

2. DALIL NAQLI
QS. al-A’raf:187
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

187. Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
QS. al-An’am: 134
إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَآتٍ ۖ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

134. Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya.
QS. al-Hajj:7
وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

7. dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.
QS. Thaha: 15
إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ

15. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.

C. MACAM-MACAM ALAM GAIB YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARI AKHIR
Alam-alam gaib yang berhubungan dengan hari akhir adalah alam-alam gaib yang harus dilewati manusia setelah kiamat datang yang dimulai dari alam barzakh sampai hari pembalasan (surga atau neraka). 
1. Alam Barzakh 
Yaitu alam kubur tempat manusia meninggal dunia. Di dalam alam kubur jika manusia yang telah meninggal dunia diperlihatkan dengan kedamaian, kesejukan, keindahan, dan segala kebahagiaan-kebahagian lainnya, maka pertanda manusia itu di hari akhir kelak akan masuk surga. Tetapi sebalikna jika manusia yang telah meninggal dunia di alam kubur ditampakkan oleh berbagai macam penderitaan dan siksaan, maka menandakan di akhirat manusia itu akan masuk neraka. 
2. Yaumul Ba’ats 
Yaitu hari bangkit manusia dari alam kubur. Pada hari itu semua manusia yang telah meninggal dunia jasadnya diutuhkan lagi seperti sedia kala meskipun sudah meninggal dunia berabad-abad lamanya. Lalu manusia digiring ke suatu tempat yang disebut Padang Mahsyar. 
3. Yaumul Hasyr 
Yaitu hari digiringnya manusia ke Padang Mahsyar setelah dibangkitkan dari kubur. Di Padang Mahsyar manusia dikumpulkan untuk dimintai pertanggungjawaban amal perbuatannya selama hidup di dunia. Malaikat pencatat perbuatan manusia akan menunjukkan kepada masing-masing orang atas izin Allah Swt. Tidak ada catatan yang salah apalagi catatan bohong karena selalu diawasi oleh Allah Swt. 
4. Yaumul Hisab 
Yaitu hari dikumpulkannya manusia di Padang Mahsyar untuk dihitung amal perbuatannya selama hidup di dunia. Semua anggota tubuh akan bicara sendiri tanpa disuruh dan tanpa ditanyai. Malaikat sebagai pengawas ketika semua anggota tubuh bicara untuk mempertanggugjawabkan perbuatan manusia yang memilikinya. 
5. Yaumul Mizan 
Yaitu hari dikumpulkannya manusia di Padang Mahsyar untuk ditimbang amal perbuatannya selama hidup di dunia. Sebagaimana saat dihitung amal perbuatanmanusia, semua anggota tubuh juga berbicara sendiri-sendiri melaporkan atas apa perbuatan yang telah dilakukan oleh si empunya selama hidup didunia. 
6. Sirath 
Yaitu jalan menuju surga. Sirath sering disebut sebagai jembatan sirathal mustaqim. Bagi manusia yang beramal baik berjalan lewat sirath akan sampai ke surga. Bagi yang beramal buruk jalannya tidak sampai ke surga tetapi jatuh ke jurang neraka. 
7. Yaumul Jaza (Hari pembalasan) 
a. Surga 
Surga adalah sebutan sebuah tempat yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan di hari akhir. Surga disediakan bagi orang-orang yang takwa kepada Allah SWT. Gambaran kenikmatan di surga sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt. :
QS. Hud: 108
وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

108. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.
b. Neraka 
Neraka adalah sebutan sebuah tempat yang penuh penderitaan dan siksaan di hari akhir. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang durhaka dan mengingkari hukumhukum Allah Swt.. Gambaran penderitaan di neraka diterangkan dalam firman Allah SWT. 
Q.S. Hud: 106
فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ

106. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih),

D. TANDA-TANDA ADANYA HARI AKHIR
1. Tanda Sughra (Tanda-tanda kiamat suhgra) 
Maksudnya tanda-tanda hari akhir yang dapat kita saksikan di dunia ini, antara lain: 
a. Rusak/ hancurnya sesuatu di dunia ini/ Kematian Kemaksiatan b. Banyak orang tidak tahu malu sehingga berbuat maksiat tidak merasa dosa/ salah/ malu 
c. Banyak masjid megah tapi hanya sedikit jamaah 
d. Semakin banyak generasi muda dalam pergaulan bebas 
e. Banynak yang durhaka kepada orang tuanya 
f. Semakin banyak laki-laki berpenampilan seperti perempuan atau perempuan berpenampilan seperti laki-laki 
g. Ilmu agama sudah diabaikan
 h. Korupsi meraja lela dan hidup bermegah-megan
 i. Semakin sedikit perlaku orang yang mencerminkan Akhlak Al-Qur'an
j. Banyak berdatangan di majlis ta’lim tetapi yang didapat hanya kumpul-kumpul saja.
k. Banyak orang yang enggan mengaji dan mengkaji ilmu agama 
l. Banyak orang yang hanya memikirkan kepentinga duniawi saja 
m. Menghambur-hamburkan harta dan enggan bershadaqah 
n. Menggunakan media sosial tidak pada tempatnya (menggunakan untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya bahkan untuk maksiat). 

2. Tanda Kubra (Tanda-tanda kiamat kubra) 
Maksudnya tanda-tanda yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt. dan akan terjadi pada saat mendekati hari akhir, antara lain: 
a. Turunnya Dajjal 
b. Turunnya binatang melata yang aneh 
c. Matahari terbit dari sebelah barat (tempat terbenamnya, berlawanan dengan tempat terbitnya) 
d. Keluarnya gas beracun dari semua sudut bumi 

E. PERILAKU YANG MENCERMINKAN BERIMAN KEPADA HARI AKHIR 
Orang yang mempercayai adanya hari akhir akan menampakkan perilaku yang dapat dipertangngjawabkan. Perilaku orang beriman kepada hari akhir antara lain: 
1. Menjaga pikiran, sikap, dan perilaku dari akhlak tercela seperti; su’uzan, hasad, dendam namimah, tamak , dan sebagainya, Sebaliknya memupuk perilaku dari akhlak terpuhi seperti: husnuzan, bertanggungjawab, amanah, dan sebagainya. 
2. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Memantapkan keimanan terhadap Rukun Iman, beribadah dan beramal shalih berdasarkan Rukun Islam kecuali haji bagi yang mampu saja. 
3. Memperbanyak zikir dan bershalawat 
Berzikir untuk mengingat Allah Swt. dan mohon ampun atas kesalahan-kesalahan. Bershalawat untuk menyanjung dan mendoakan Rasulullah Muhammad Saw. sebagai rasa kecintaan kepada Nabi Saw. dan agar kelak kita mendapat syafaat di hari kiamat. 
4. Selalu membaca Al-Qur’an 
Sebagai orang yang beriman kepada hari akhir semestinya selalu membaca dan mengkaji ayat-ayat al-Qur’an selain untuk menambah pahala juga sebagai pengingat kelak dunia dan seisinya akan berakhir dan al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia juga bercerita tentang hari akhir. 
5. Bergaul dengan orang-orang shalih. 
Dengan siapa kita berteman dapat menandakan akhlak kita seperti apa. Jika kita berteman dengan orang shalih berarti kita termasukorang yang shalih. Begitu sebaliknya. Berarti teman dapat mebawa kita ke arah baik atau buruk. Maka hati-hati dalam memilih teman. 
6. Mengembangkan potensi diri 
Setiap orang memiliki potensi yang berbeda. Selama potensi itu baik, maka perlu dikembangkan agar lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan mungki bagi orang lain. Pandai memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yag positif dan gemar berlatih adalah cara mengembangkan potensi diri. 
7. Memupuk tali persaudaraan dan silaturrahmi
Zaman sudah akhir dan suatu saat akan terjadi hari akhir. Memupuk tali persaudaraan sangat dibutuhkan. Bersaudara menandakan ada satu rasa, satunya senang yang lain ikut senang, yang satu sedih yang lainnya ikut sedih. Bersaudara jauh dengan sifat pemusuhan. Memupuk tali silaturahmi adalah cara terbaik untuk memperkuat persaudaraan. Silaturrahmi akan melancarkan rezeki dan memanjangkan umur.

BAB I BERSUCI PART 1

BAB I
MENJAGA KELANGSUNGAN HIDUP MANUSIA DAN LINGKUNGAN MELALUI PENGENALAN ALAT-ALAT BERSUCI

A. BERSUCI
1. Pengertian Bersuci
Bersuci dalam bahasa Arabnya disebut dengan thaharah (الطهارة .( Menurut arti bahasanya bermakna bersih dan suci dari segala jenis kotoran, baik berupaka kotoran tampak mata seperti kencing dan lainnya maupun yang tidak tampak mata, sebagaimana maksiat dengan berbagai bentuknya. Sedangkan arti dalam istilah fikih, thaharah memiliki arti bersih dan suci dari najis dan hadats. 

2. Perbedaan Bersuci dan Membersihkan
Kita sebagai manusia dan makhluk sosial setiap hari selalu membersihkan diri. Setidaknya, manusia mandi dua kali dalam sehari semalam, pagi dan sore hari. Sering pula melakukan pembersihan dalam bentuk lainnya, seperti membasuh muka pada saat terkena debu, kaki yang baru saja berjalan di tempat yang becek, dan selesai makan membasuh tangan.
Semua perbuatan membersihkan di atas bukanlah bersuci dalam pengertian fikih. Membersihkan diri mengacu pada kehendak pribadi kita sebagai pelaku, seperti dengan cara membasuh muka berkali-kali, karena dirasakan rasa panas akibat terkena terik matahari masih terasa dan banyaknya debu yang masih menempel. Sedangkan bersuci dan tata caranya harus mengacu dan mengikuti ketentuan Allah SWT melalui Rasulullah SAW dan dijelaskan lebih mendalam dan terperinci oleh ulama-ulama fikih. 

Tujuan membersihkan diri dan bersuci juga berbeda. Membersihkan diri untuk membersihkan kotoran yang melekat dan mengikuti pola hidup sehat. Bersuci bertujuan agar ibadah yang dilakukan di terima, seperti shalat yang tidak akan diterima di sisi Allah SWT, jika pelakunya tidak dalam keadaan suci. Meskipun demikian, tanpa menjadi tujuan, bersuci dengan sendirinya juga akan mengantar pelakunya bersih dari kotoran dan berpola hidup sehat. 

Kesimpulannya adalah, ”bersuci sudah pasti menyertakan perbuatan membersihkan diri, tetapi membersihkan diri belum tentu termasuk bagian dari bersuci”. 

3. Dasar Hukum Bersuci
 a) Dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
 إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orangorang yang mensucikan diri“ (QS. Al-Baqarah (1): 222) 
b) Allah SWT juga berfiman: 
فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Artinya: “Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah mencintai orang-orang yang bersih“ (QS. Al-Taubah (9): 108)

Ayat al-Qur’an di atas memiliki kesamaan kandungan yang sangat erat dengan bersuci. Allah SWT menyukai orang yang membiasakan dan selalu membersihkan diri dengan bersuci, baik badannya, pakaian yang melekat pada tubuhnya, dan lingkungan sekitarnya. Allah Swt juga memerintahkan agar setiap muslim menjadi contoh bagi orang lain, baik keberhasihan yang bersifat dhahir maupun batin. 

B. KEDUDUKAN AIR DALAM BERSUCI
1. Air Sebagai Alat Bersuci
Alat yang paling utama adalah bersuci adalah air. Namun tidak semua air dapat digunakan sebagai alat bersuci. Untuk mengetahui air yang dapat digunakan bersuci, maka kita harus mengetahui air di tinjau dari pembagiannya dan ditinjau dari segi hukum penggunaannya.

2. Pembagian Air Ditinjau dari Tingkatanya

a. Air Mutlak
Air mutlak di sebut juga dengan Air suci dan mensucikan adalah air yang jatuh dari langit atau bersumber dari bumi. Air Mutlak dapat digunakan sebagai alat mensucikan benda-benda lain dengan syarat ketiga sifat yang dimilikinya (warna, rasa, dan bau) tidak mengalami perubahan.
 7 (tujuh) katagori air yang termasuk air mutlak.
a) Air Hujan 
(QS: Al-Anfal (8): 11)
وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ
dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu
dan QS: Al-Furqan(25): 48. 
وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
”Kami turunkan dari langit air yang Amat bersih” 

b) Air Laut
Berdasarkan Hadits dari Abu Hurairah RA, ia berkata: ”Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Wahai Rasulullah, kami berlayar mengarungi lautan dan hanya membawa sedikit air. Jika kami menggunakannya untuk berwudhu, kami akan mengalami dahaga. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut? 
” Rasulullah menjawab: هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الحِلُّ مَيْتَتُهُ. 
Artinya: ”Air laut itu suci, dan bangkai (yang terdapat didalamnya) halal (dimakan)” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

c) Air Sungai 
”Bagaimana pendapat kalian, seandainya di depan pintu masuk salah seorang diantara kalian ada sungai, kemudian ia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari, apakah masih ada kotoran (yang melekat dibadannya? Para shahabat menjawab " tidak ada kotoran yang melekat di badannya" lalu Rasulullah menimpali, " hal itu semisal sholat lima waktu yang membersihkan dari segala kesalahan) (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

d) Air Sumur
”Sesungguhnya air (sumur bidha’ah) adalah suci, tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu apapun” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i)

e) Mata Air 
Mata air adalah air yang keluar dari tanah, air ini bersih dan mensucikan. bisa digunakan untuk bersuci.

f) Air Embun
Air yang turun dari langit berupa butiran air kecil saat pagi hari air ini juga bisa digunakan bersuci

g) Air Es/Salju
Air yang berada di tempat dengan suhu udara dibawah 0. air akan membeku ketika mencair maka bisa digunakan untuk bersuci. ini salju alami bukan salju buatan dari lemari es.

Kesimpulan dari air mutlak adalah air murni yang turun dari langit atau keluar dari bumi. Mengapa bisa dikatakan air Mutlak? Air mutlak berarti air tersebut secara bahasa juga dinamakan air walaupun berbeda tempat berbeda wadah. Tidak ada tambahan nama apapun, walau itu ada di tanah, di botol atau di gelas namanya tetap air. itulah air mutlak.

b. Air suci Namun Tidak Mensucikan 
Air suci yang tidak mensucikan bagi benda lain adalah air yang hanya memiliki sifat suci saja dan tidak terkena najis. Jenis air ini terbagi menjadi tiga, yaitu: 
1) Air suci bercampur dengan benda yang suci, sehingga menyebabkan berubahnya salah satu sifat air (warna, rasa, dan bau) dan menghilangkan sifat mensucikan benda lain yang sebelumnya dimiliki oleh air. 
Contoh minyak melati, kuah soto, air sirup dan air teh. Semuanya menyertakan air yang suci dan mensucikan. Kesucian air yang ada di masing-masing tetap terjaga, namun tidak lagi mensucikan. Warna, rasa, dan baunya tidak lagi seperti semula. Rasa air dalam minyak melati tawar dan pekat, kuah soto menjadi asin dan sedap, dan adonan kue menjadi manis rasanya. 

2) Air Musta’mal yaitu air yang sedikit ukurannya atau kurang dari 2 (dua) kullah dan bekas pakai untuk menghilangkan najis maupun hadats.Dua kullah sama dengan 10 s/d 15 tin yang dapat disetarakan dengan kurang lebih 270 liter air. Kolam penampuan yang berbentuk persegi empat, maka dua kullah air diukur dari debit kolam yang ukuran panjang, lebar, dan kedalamannya adalah 1,05 hasta yang sedang. Satu hasta kurang lebih setara 45 cm, sehingga panjang, lebar, dan kedalaman masing-masing berukuran sekitar 56 cm. Kolam penampungan yang melingkar, maka dua kullah sama dengan debit air yang tertampung di kedalaman dua hasta (90 cm) dan diameter lebarnya satu hasta (45 cm).

3) Air yang keluar dari tumbuh-tumbuhan, baik yang mengalir dengan sendirinya atau sengaja di buat. Buah-buahan yang segar biasanya memiliki kadar air yang tinggi seperti buah kelapa, semangka, melon, ketika dibelah air akan menetes dengan sendirinya. Bagi orang yang kehabisan bekal air di hutan belantara, terkadang menebang pohon yang memiliki kadar air tinggi untuk diminum. 

c. Air Mutanajjis 
Air mutanajjis adalah air dalam volume yang sedikit dan terbatas, yang terkena atau bercampur dengan benda-benda najis dalam berbagai tingkatannya (mukhaffafah, mutawassithah, dan mughaladhah).
 Air jenis ini terbagi kedalam dua bagian:
1) Air dalam jumlah sedikit yang mensucikan dan kejatuhan najis, tetapi sifat-sifatnya (warna, rasa, dan baunya) tidak berubah. 
2) Air dalam jumlah sedikit yang mensucikan dan kejatuhan najis, namun salah satu sifatnya menjadi berubah. 

Sedangkan air suci yang volumenya sangat banyak dan kejatuhan najis tapi tidak berubah dari ketiga sifatnya ( warna, rasa, dan baunya) maka tetap tergolong air suci dan mensucikan. contoh air danau yang kejatuhan kotoran burung, maka tetap suci dan mensucikan, karena tidak merubah sifat-sifat air.

Sunday, May 10, 2020

5 Cara Terbaik Manfaatkan Waktu Menurut Surat Al Ashr

Kita tentu sudah mengetahui bahwa waktu adalah satu hal yang tidak dapat diulang kembali. Ia bagai misteri, karena tidak ada seorang pun yang dapat menebak kejutan apa yang akan dibawanya di masa depan. Sebaliknya, semua yang terjadi di masa lalu tak mungkin bisa diputar lagi untuk diperbaiki.

 Begitu berharganya waktu yang Allah berikan kepada manusia, hingga kita diharuskan memanfaatkannya sebaik mungkin. Selain itu, kita juga harus waspada terhadap waktu, karena kita tidak tahu sampai kapan jatah waktu kita di dunia ini. Perihal memanfaatkan waktu ini, Allah telah berfirman dalam surat Al-‘Ashr ayat 1-3 : 
وَالْعَصْرِۙ - ١
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ - ٢
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ - ٣
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” 
Dalam surat ini, Allah telah bersumpah demi masa atau waktu. Dia mengatakan bahwa manusia benar-benar merugi, kecuali mereka yang memanfaatkan waktunya untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
 Jelas sekali, Kita dianjurkan mengisi waktu untuk berbuat kebajikan sehingga tidak ada masa yang sia-sia dan menjadikan kita termasuk golongan orang merugi.
 Tidak hanya itu, Rasulullah juga pernah bersabda tentang waktu. Beliau mengatakan, ada lima perkara yang patut kita jaga dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya, sebelum datang lima perkara yang lain. Apa saja itu? Berikut ulasannya. 

Mudamu sebelum tuamu
 Rasulullah menganjurkan untuk memanfaatkan waktu muda kita sebaik mungkin. Mengisinya dengan hal-hal yang positif, bernilai ibadah dan membawa kebaikan. Karena selagi masih muda, tentunya tubuh kita masih sehat dan fit sehingga bisa maksimal dalam mengerjakan sesuatu. Berbeda sekali ketika usia senja datang menjemput. Menurunnya kemampuan fisik akan membuat kita sangat terbatas melakukan berbagai hal, termasuk ibadah.
 Jangan sampai masa muda yang sebentar ini malah dimanfaatkan untuk hal-hal yang batil. Itu akan membawa penyesalan yang mendalam saat kita tua nanti. Jangan lupa, kita tidak pernah tahu apakah kita bisa mencapai usia tua atau tidak. Maka dari itu, mari gunakan masa muda ini untuk berbuat kebajikan dan memaksimalkan ibadah.

 Sehatmu sebelum sakitmu 
Apa yang kita rasakan saat melihat orang yang tergeletak sakit? Tentu terbersit rasa iba di hati. Bagaimana tidak? Sekaya apapun orang tersebut, dia tidak akan bisa menikmati kekayaannya karena sakit. Tidak memandang tua atau muda, sakit bisa jadi salah satu pertanda bahwa sang maut akan segera menjemput. Maka mari kita maksimalkan potensi yang kita miliki, beribadah dengan khusuk dan continue, serta menjaga kesehatan itu sendiri. Jangan sampai kesehatan yang begitu berharga ini digunakan untuk kebatilan, sehingga kita akan menyesalinya saat sakit mendera.

 Kayamu sebelum fakirmu 
Yang ketiga berhubungan dengan harta. Rasulullah menyuruh kita yang tengah diberi kelebihan harta untuk memanfaatkan itu dengan baik sebelum keadaan berbalik. Waktu adalah misteri. Tidak selamanya kita menjadi orang berada, Allah bisa dengan mudah membaliknya. Karena itu, selagi diberi kelebihan rezeki, kita wajib menggunakannya di jalan Allah. Rajin bersedekah, menolong sesama yang membutuhkan, agar kelak kita dapat mempertanggungjawabkan kelebihan yang dititipkan-Nya ini.

 Luangmu sebelum sibukmu 
Satu dari banyaknya nikmat yang sering lalai kita syukuri adalah waktu luang. Padahal, waktu luang adalah hal yang dicari-cari kebanyakan orang sekarang. Karena kesibukan yang super, kita bahkan sering merasa kurang dengan waktu 24 jam sehari yang diberi oleh Allah. Karena itu, bagi kita yang saat ini masih dikaruniai waktu luang, sudah seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin. Menikmatinya dengan keluarga tercinta misalnya, atau melakukan kegiatan positif yang bermanfaat bagi umat. Karena jika kesibukan sudah menghampiri, kita akan sangat merindukan waktu-waktu luang itu. Maka, jangan sampai kita mengisinya untuk hal-hal yang sia-sia.

 Hidupmu sebelum matimu 
Yang terakhir adalah kehidupan sebelum kematian. Berapa banyak manusia di alam kubur yang minta dikembalikan ke dunia ini karena penyesalan? Mereka menyesali karena selama hidupnya tidak digunakan untuk mencari bekal yang cukup untuk perjalanan panjang itu.
 Rasulullah menganjurkan agar kita berperan sebaik-baiknya dalam hidup ini, menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat. Karena apabila nyawa sudah ada di ujung kerongkongan, maka tertutuplah semuanya, termasuk pintu taubat.
 Jadikan hidup kita sebagai ladang amal yang manfaatnya akan kita tuai setelah kematian, maka semoga kita bukan termasuk mereka yang ingin dikembalikan lagi ke dunia setelah kematiannya. Itulah lima perkara yang wajib kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya, agar kita tidak menyesal apabila datang lima perkara yang lain.
 Mari kita manfaatkan waktu dengan kebajikan yang bernilai ibadah, sebelum tidak ada lagi kesempatan untuk itu. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi. Aamiin

Monday, April 13, 2020

Keteguhan Iman Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq

Nama Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu adalah tidak asing lagi bagi sekalian ummat Islam, baik dahulu maupun sekarang. Dialah manusia yang dianggap paling agung dalam sejarah Islam sesudah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Kemuliaan akhlaknya, kemurahan hatinya dalam mengorbankan harta benda dan kekayaannya, kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah ummat, ketenangannya dalam menghadapi kesukaran, kerendahan hatinya ketika berkuasa serta tutur bahasanya yang lembut lagi menarik adalah sukar dicari bandingannya baik dahulu maupun sekarang.

Dialah tokoh sahabat terbilang yang paling akrab dan paling disayangi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Karena besarnya pengorbanan beliau itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengatakan: “Islam telah tegak di atas harta Siti Khadijah dan pengorbanan Abu Bakar.”

Beberapa keistimewaan beliau adalah  karena  Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. adalah seorang sahabat yang terkenal karena keteguhan imannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menyanjungi sahabatnya itu dengan sabdanya, “Jika ditimbang iman Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan iman sekalian ummat maka lebih berat iman Abu Bakar“.

Mengapa demikian??? di antara jawabannya adalah karena beliau tidak mencintai dunia ini, cintanya pada Allah dan rasulnya melebihi apapun. Dan yang kedua adalah karena rasa takutnya pada yaumul Hisab attau pengadilan Allah swt: suatu ketika beliau berkata: alangkah beruntung jikalau diriku tercipta hanya seperti selembar daun yang tidak dihisab pada hari Qiyamat nanti. Dua keadaan inilah yang menyebabkan Nabi bersabda bahwa imannya adalah paling berat di banding iman umat Islam semuanya.

Berikut adalah deskripsi tentang Abu Bakar r.a.: setelah ia masuk Islam dia telah menginfaqkan empat puluh ribu dinar untuk kepentingan shadaqah dan memerdekakan budak. Dalam Perang Tabuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah meminta kepada sekalian kaum Muslimin agar mengorbankan hartanya pada jalan Allah.

Tiba-tiba datanglah Abu Bakar radhiallahu 'anhu membawa seluruh harta bendanya lalu meletakkannya di antara dua tangan baginda Rasul. Melihat banyaknya harta yang dibawa oleh Saiyidina Abu Bakar radhiallahu 'anhu, bagi tujuan jihad itu maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadi terkejut lalu berkata kepadanya: “Hai sahabatku yang budiman, kalau sudah semua harta bendamu kau korbankan apa lagi yang akan engkau tinggalkan buat anak-anak dan isterimu?” Pertanyaan Rasulullah saw  itu dijawab oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan tenang sambil tersenyum, ujarnya. “Saya tinggalkan buat mereka Allah dan RasulNya.” (lih. tafsir surat Al-Lail).

Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Umar Ibnul Khattab berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kita untuk bersedeqah, saat itu aku memiliki harta maka aku berkata, “Pada hari inilah aku akan mengungguli Abu Bakar, semoga aku mengunggulinya pada hari ini”. Maka akupun mengambil setengah hartaku, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Aku menjawab: Sejumlah yang aku sadaqahkan (50 %)”. 

Lalu Abu Bakar datang dengan membawa seluruh hartanya dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Dia menjawab: Aku meninggalkan Allah dan Rasul-Nya. Lalu Umar berkata: Demi Allah aku tidak bisa mengungguli Abu Bakar dalam kebaikan untuk selamanya”. [Sunan At-Tirmdzi no: 3675).

Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari hadits Anas bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Dua orang ini adalah pemimpin para penghuni surga yang dewasa baik generasi yang terdahulu atau yang akan datang kecuali para Nabi dan Rasul”.[Sunan Turmudzi: no: 3664].

Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Kitab Fadha’il ash-Shahabah [Fath al-Bari Juz 7 hal. 15] dengan judul ‘Bab; Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar. Imam Bukhari berkata, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada para sahabat: “Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba; antara dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”

Abu Sa’id berkata: “Abu Bakar pun menangis. Kami merasa heran karena tangisannya. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan ada seorang hamba yang diberikan tawaran. Ternyata yang dimaksud hamba yang diberikan tawaran itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Memang, Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.”  Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku.

Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di Kitab Fadha’il ash-Shahabah (lihat Syarh Nawawi Juz 8 hal. 7-8).

Berikut ini pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas:

1. Hadits ini mengandung keistimewaan yang sangat jelas pada diri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu yang tidak ditandingi oleh siapapun di antara para sahabat. Hal itu disebabkan beliau berhak mendapat predikat Khalil -kekasih terdekat- bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kalaulah bukan karena faktor penghalang yang disebutkan oleh Nabi di atas.

2. Abu Bakar radhiyallahu’anhu mengetahui bahwa seorang hamba yang diberikan tawaran tersebut adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu beliau pun menangis karena sedih akan berpisah dengannya, terputusnya wahyu, dan akibat lain yang akan muncul setelahnya. 
 3. Para ulama itu memiliki pemahaman yang bertingkat-tingkat. Setiap orang yang lebih tinggi pemahamannya maka ia layak untuk disebut sebagai a’lam (orang yang lebih tahu).
4. Hadits ini mengandung motivasi untuk lebih memilih pahala akhirat daripada perkara-perkara dunia (lihat Fath al-Bari [7/19])
5. Hendaknya seorang berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik kepadanya dan menyebutkan keutamaannya (lihat Fath al-Bari [7/19]). 

Kita juga bisa melihat bersama bagaimana kedalaman ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu terhadap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ilmu itupun terserap dengan cepat ke dalam hatinya dan membuat air matanya meleleh. Kecintaan kepada akhirat dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah jauh lebih beliau utamakan daripada kesenangan dunia. 

Beliau sangat menyadari bahwa kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah para sahabat laksana lentera yang menerangi perjalanan hidup mereka. Nikmat hidayah yang dicurahkan kepada mereka melalui bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah di atas segala-galanya.

Kita pun bisa menarik kesimpulan bahwa dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan dengan bantuan dan dukungan para sahabatnya. Beliau -dengan kedudukan beliau yang sangat agung- tidaklah berdakwah sendirian. Terbukti pengakuan beliau terhadap jasa-jasa Abu Bakar yang sangat besar kepadanya. 

Tentu saja yang beliau maksud bukan semata-mata bantuan Abu Bakar untuk kepentingan pribadi beliau, akan tetapi demi kemaslahatan umat yang itu tak lain adalah dalam rangka dakwah dan berjihad di jalan Allah.

Hadits ini juga menunjukkan betapa agungnya kedudukan Abu Bakar di mata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melebihi sahabat-sahabat yang lain. Nabi tanpa malu-malu mengakui keutamaan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Hadits ini juga menunjukkan bahwa memuji orang di hadapannya diperbolehkan selama orang tersebut tidak dikhawatirkan ujub karenanya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa kecintaan yang terpendam di dalam hati pasti akan membuahkan pengaruh pada gerak-gerik fisik manusia. 

Kecintaan yang sangat dalam pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Abu Bakar pun tampak dari ucapan dan perbuatan beliau. Kalau kita mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka konsekuensinya kita pun mencintai orang yang beliau cintai. Kecintaan yang berlandaskan Islam dan persaudaraan seagama.



KLIK LINK DI BAWAH INI !

ADAB MEMBACA AL-QUR'AN DAN ADAB BERDOA


ADAB MEMBACA AL-QURAN
Al-Qur'an adalah firman Allah yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al-Quran adalah kitab pedoman dan petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Allah Swt. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari al-Quran. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw: “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Ketika membaca al-Quran, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan  dalam membaca al-Quran:
1. Membaca dalam keadaan suci,  duduk yang sopan dan tenang.
Dalam membaca al-Quran seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haramain berkata, “Orang yang membaca al-Quran dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59)
2.  Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.
Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang membaca al-Quran (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan). Rasululloh memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam-kan Al-Quran setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhari, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatam-akan Al-Quran sekali dalam seminggu.
3.  Membaca Al-Quran dengan khusyu’, dengan menangis-trenyuh karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca sehingga  bisa menyentuh jiwa dan perasaan.
Allah Swt. menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’ [17]:109). Namun demikian, tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.
4.  Membaguskan suara ketika membacanya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallƗm, “Hiasilah al-Quran dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim). Di dalam hadis lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Quran.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadis ini adalah membaca Al-Quran dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhraj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid.
5.  Membaca al-Quran dimulai dengan Ta’awud.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98). Membaca al-Quran dengan tidak mengganggu orang yang sedang salat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’. Rasulullah Saw  bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabb-Nya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Quran).” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim).

ADAB BERDOA
Mari kita pelajari bersama tentang cara, kiat dan adab berdoa agar segera dikabulkan oleh Allah Swt. Doa adalah senjata orang yang beriman, karena dengan berdoa seorang hamba dengan sendirinya telah menyatakan kelemahan, kebutuhan sekaligus kekurangannya akan pertolongan dari dzat penguasa alam semesta, Allah Swt.
Kita selaku hamba yang beriman tentu dianjurkan untuk selalu berdoa dan memohon pertolongan hanya kepada Allah semata. Namun ternyata doa-doa kita kadang tak selaras dengan apa yang kita inginkan. Terkadang apa yang kita harapkan dan cintai belum tentu itu baik bagi kita, begitu juga sebaliknya apa yang kita benci ternyata itu baik bagi kita. Namun yakinlah bahwa semua yang Allah kehendaki itu adalah untuk kebaikan kita.
Apa sajakah adab dalam doa agar dikabulkan tersebut?
1.      Dengan menghadirkan Hati
Salah satu kunci dikabulkannya doa adalah dengan ‘Ihsan’. Yaitu merasakan kehadiran Allah dimanapun dalam keadaan bagaimanapun. Selalu sadar bahwa saat kita berdoa, Allah sedang melihat dan mengawasi kita. Allah Maha Mengetahui bisikan hati kita, Allah begitu dekat dengan kita, lebih dekat dari urat nadi kita.
2.      Dengan rasa Takut dan Penuh Harap
Disaat kita berdoa, sekalikali jangan pernah ada kerguan dalam hati. Tapi pasrahkan segalanya kepadaNya dan selalu berprasangka baik disetiap ketetapannya. Pasrahkan diri kita dan yakini Allah akan segera mengabulkan doa-doa kita.
3.      Dengan suara lembut
Karena Allah begitu dekat dan Maha Mengetahui, maka suara orang yang berdoa itu bagaikan mendesah, meratap dan mengiba. Orang yang dalam keadaan seperti itu sudah barang tentu akan menunjukkan bentuk suaranya yang keluar dari hatinya dan bila mengucapkannya ia ucapkan dengan suara yang lembut. Allah berfirman dalam Al-Quran: ”Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.al-'Araf [7]: 55).
4.      Di awali dengan beristighfar, Menyesal dan Mengakui dosa.
Banyak contoh dalam Al-Quran bagaimana para Nabi dan Rasul berdoa. Nabi Adam As, Nuh As, Yunus As dan lainnya, senantiasa berdoa dengan penuh kekhusyukan dan kerendahan hati, seraya diawali doanya dengan memuji dan mensucikan (tasbih) serta menyisipkan penyesalannya, mereka mengakui dosa-dosa dan kelemahan dirinya. 
Sebagai contoh: Rabbana dzalamna anfusana, begitulah doa Nabi Adam As yang diawali dengan pengakuan dosanya. Nabi Yunus As mengawalinya dengan pengakuan tauhid, bertasbih dan mengakui keadaanya berada dalam kegelapan. “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimin”.

KLIK LINK DI BAWAH INI
https://www.proprofs.com/quiz-school/story.php?title=driving-skills-quiz-template_345gf


Kalau link di atas tidak bisa dibuka silahkan absen di kolom komentar di bawah ini!

Monday, April 6, 2020

RIYA' DAN NIFAQ

1. RIYA'
Riya’ dalam Bahasa Arab artinya memperlihatkan atau memamerkan, secara istilah riya’ yaitu memperlihatkan sesuatu kepada orang lain, baik barang maupun perbuatan baik yang dilakukan, dengan maksud agar orang lain dapat melihatnya dan akhirnya memujinya. Hal yang sepadan dengan riya’ adalah sum’ah yaitu berbuat kebaikan agar kebaikan itu didengar orang lain dan dipujinya, walaupun kebaikan itu berupa amal ibadah kepada Allah Swt. Orang yang sum’ah dengan perbuatan baiknya, berarti ingin mendengar pujian orang lain terhadap kebaikan yang ia lakukan. Dengan adanya pujian tersebut, akhirnya masyhurlah nama baiknya di lingkungan masyarakat. Dengan demikian orang yang riya’ berarti juga sum’ah, yakni ingin memperoleh pujian dari orang lain atas kebaikan yang dilakukan. 
Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
”Barang siapa (berbuat baik) karena ingin didengar oleh orang lain (sum’ah), maka Allah akan memperdengarkan kejelekannya kepada yang lain. Dan barang siapa (berbuat baik) karena ingin dilihat oleh orang lain (riya’), maka Allah  akan memperlihatkan kejelekannya kepada yang lain.” (H.R Bukhari). 


Contoh-contoh perbuatan riya’ misalnya adalah: 
a.  Sifat–sifat yang melekat pada diri seseorang, seperti suka melekatkan sifat-sifat mulia pada diri sendiri. Hal-hal yang cenderung dipamerkan itu misalnya keelokan dirinya, pakaian atau perhiasan,  jabatan di tempat kerja, dan status sosial lainnya. 
b.  Seseorang menyantuni anak yatim dihadapan banyak orang dengan maksud agar ditayangkan di TV atau radio.

Adapun akibat buruk riya’, antara lain sebagai berikut 
a. Menghapus pahala amal baik, (QS. al-Baqarah ayat 264) 
b. Mendapat dosa besar karena riya’ termasuk perbuatan syirik kecil.
c.  Tidak selamat dari bahaya kekafiran karena riya’ sangat dekat hubungannya dengan sikap kafir. (Q.S. al-Baqarah ayat 264).

2.  NIFAQ 
Kata nifaq berasal dari kata: nafiqa alyarbu’, artinya  lubang  hewan sejenis tikus. Lubang ini ada dua, ia bisa masuk ke lubang satu kemudian keluar lewat lubang yang lain. Demikianlah gambaran keadaan orang-orang muna¿k, satu sisi menampakkan Islamnya, tetapi di sisi lain ia amat kafir dan menentang kepentingan Agama Islam

Nifaq adalah perbuatan menyembunyikan kekafiran dalam hatinya dan menampakkan keimanannya dengan ucapan dan tindakan. Perilaku seperti ini pada hakikatnya adalah ketidaksesuaian antara keyakinan,  perkataan, dan perbuatan. Atau dengan kata lain, tindakan yang selalu dilakukan adalah kebohongan, baik terhadap hati nuraninya, terhadap Allah Swt maupun sesama manusia. 
Pelaku perbuatan nifaq disebut munafik. Firman Allah Swt.
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ 
”Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan:  “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolokolok”. (Q.S. al-Baqarah [2]:14) 

1. Dua Kategori Nifaq:
Perbuatan Nifaq dikategorikan menjadi dua, yaitu:
a.  Nifaq I’tiqadi 
Nifaq I’tiqadi adalah suatu bentuk  perbuatan yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah Swt., sedangkan dalam hatinya tidak ada keimanan sama sekali. Dia salat, bersedekah, dan beramal saleh lainnya, namun tindakannya itu tanpa didasari keimanan dalam hatinya. Allah juga berfrman dalam QS. an-Nisa ayat 142  : 
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. an-Nisa’ [4]:142) 

b.  Nifaq ‘Amali 
Nifaq ‘amali adalah kemunafikan berupa pengingkaran atas kebenaran dalam bentuk perbuatan. Sesuai dengan Sabda Rasulullah Saw:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ 
“Tanda-tanda orang muna¿k itu ada tiga, yaitu apabila berkata selalu berdusta, apabila  berjanji selalu tidak ditepati, dan apabila dipercaya selalu mengkhianati”. (HR. Bukhari Muslim)

2.  Ciri-ciri perbuatan yang masuk kategori nifaq: 
1. Tidak mampu menegakkan salat kecuali dengan malas-malasan, ia merasa ragu terhadap balasan Allah di akhirat. 
2. Hanya ber¿kir jangka pendek yaitu kekayaan duniawi semata 
3. Terbiasa dengan kebohongan, ingkar janji, dan khianat. 
4. Tidak mampu ber-amar ma’ruf nahyi munkar. 
5. Sering kali dalam pembicaraannya menyindir dan menyakiti Nabi atau Islam.

MAKANAN HALAL

Islam sangat memperhatikan kebaikan, kesehatan dan kesejahteraan umatnya. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi keadaan tubuh kita baik langsung maupun tidak langsung adalah makanan dan minuman. Makanan dan minuman halal dan thayyib (baik) akan berpengaruh baik terhadap tubuh dan kehidupan kita, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu masalah ini mendapat perhatian yang sangat penting dalam Islam. Pada hakekatnya semua makanan di muka bumi ini disediakan untuk manusia, tetapi ada kriteria tertentu yang menjadikan makanan atau minuman tertentu boleh dinikmati ataupun dilarang.

1. Makanan yang Halal 
Pengertian Makanan yang halal ialah makanan yang dibolehkan untuk dimakan menurut ketentuan syari’at Islam. segala sesuatu baik berupa tumbuhan, buah-buahan ataupun binatang pada dasarnya adalah hahal dimakan, kecuali apabila ada nash al-Quran atau Hadis yang mengharamkannya. Ada kemungkinan sesuatu itu menjadi haram karena memberi mengandung mudharat atau bahaya bagi kehidupan manusia.

Allah Swt berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuiti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. al-Baqarah: 168).

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
Artinya: “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (QS. al-Maidah: 88)


Dari dua ayat di atas maka jelaslah bahwa makanan yang dimakan oleh seorang Muslim hendaknya memenuhi 2 syarat, yaitu: 
a. Halal, artinya diperbolehkan untk dimakan dan tidak dilarang oleh hukum syara’ 
b. Baik/Thayyib, artinya makanan itu bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan.

Pertama:  Makanan dan minuman harus halal. Halalnya suatu makanan harus meliputi tiga hal, yaitu: 
a. Halal Cara Mendapatkannya. Artinya sesuatu yang halal itu harus diperoleh dengan cara yang halal pula. Sesuatu yang halal tetapi cara medapatkannya tidak sesuatu dengan hukum syara’ maka menjadi haramlah ia. Sebagaimana, mencuri, menipu, dan lain-lain. 

b. Halal Karena Proses/Cara Pengolahannya. Artinya selain sesuatu yang halal itu harus diperoleh dengan cara yang halal pula. Cara atau proses pengolahannya juga harus benar. Hewan, seperti kambing, ayam, sapi, jika disembelih dengan cara yang tidak sesuai dengan hukum Islam maka dagingnya menjadi haram. 

c. Halal Karena Dzatnya. Artinya, Makanan itu terbuat dari bahan yang halal, tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan menurut syariat, seperti nasi, susu, telor, dan lain-lain. 
Makanan yang haram tercantum dalam ayat berikut ini :
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: ”Sesungguhnya Dia (Allah) hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang Penyayang. (QS. al-Baqarah : 173)

Kedua, makanan dan minuman harus thayyib artinya baik bagi tubuh dan kesehatan. Makanan yang membahayakan kesehatan misalnya  mengandung formalin, mengandung pewarna untuk tekstil, makanan berlemak yang berlebihan, dan lain-lain dikatakan tidak thayyib.

2. Jenis Makanan Dan Minuman Yang Dihalalkan 
Dalam Islam, halalnya suatu makanan harus meliputi tiga hal, yaitu: 
a. Halal karena zatnya. Artinya, benda itu memang tidak dilarang oleh hukum syara’, seperti nasi, susu, telor, dan lain-lain. 
b. Halal cara mendapatkannya. Artinya sesuatu yang halal itu harus diperoleh dengan cara yang halal pula. Sesuatu yang halal tetapi cara medapatkannya tidak sesuatu dengan hukum syara’ maka menjadi haramlah ia. Sebagaimana, mencuri, menipu, dan lain-lain. 
c. Halal karena proses/cara pengolahannya. Artinya selain sesuatu yang halal itu harus diperoleh dengan cara yang halal pula. Cara atau proses pengolahannya juga harus benar. Hewan, seperti kambing, ayam, sapi, jika disembelih dengan cara yang tidak sesuai dengan hukum Islam maka dagingnya menjadi haram. Adapun jenis makanan atau binatang yang halal dimakan, 

Secara garis besar binatang yang halal dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu: 
1. Semua makanan dan minuman yang tidak diharamkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Artinya semua makanan minuman adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang menyatakan haramnya. Allah Swt berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا 
Artinya:  “Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu”. (QS. al-Baqarah: 29)

 سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم عَنِ السَّمنِ وَالجبنِ والفِراءِ فَقَالَ : الحَلالُ مَا أَحَلَّ اللهُ فِي كِتَابِهِ ، وَالحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللهُ فِي كِتَابِه ، وَمَا سَكَتَ عَنهُ فَهوَ مِمَّا عَفَا عَنهُ
Artinya : Rasulullah saw pernah ditanya tentang minyak samin, keju, dan,keledai liar lantas beliau pun menjawab: Apa yang dihalalkan oleh Allah dalam Kitab-Nya adalah halal dan apa yang diharamkan Allah di dalam Kitab-Nya adalah haram, dan apa yang didiamkan (tidak diterangkan), maka itu termasuk yang dimaafkan”.(HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

2. Semua makanan yang baik, tidak kotor dan tidak menjijikan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا 
Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi”. (QS. al-Baqarah: 168)
 وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
Artinya: Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (QS. al-A’raf [7]: 157) 

3. Semua makanan yang tidak memberi mudharat, tidak membahayakan kesehatan jasmani dan tidak merusak akal, moral, dan aqidah.
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Artinya: “Dan jangan kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri”. (QS. al-Baqarah: 195)
 لَا ضَرَرَ وَ لَا ضِرَارَ
Artinya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain” 

4. Binatang ternak, seperti: kerbau, sapi, unta, kambing, domba dan lain-lain. 
Firman Allah :
 أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ
Artinya: “Telah dihalalkan bagi kamu memakan binatang ternak (seperti: Unta, Sapi, Kerbau dan Kambing)”. (QS. al-Maidah : 1)

5. Sebangsa belalang juga halal, bahkan bangkainyapun boleh dimakan walaupun tanpa disembelih, nabi Muhammad saw. bersabda:
أُحلِّت لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ؛ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ، فَالْجَرَادُ وَالْحُوتُ وأنا الدَّمَانِ، فالكَبِدُ والطِّحَالُ

Artinya: “Dihalalkan kepada kita kita dua bangkai dan dua darah, adapun bangkai dua yaitu belalang dan dan ikan sedangkan darah dua yaitu hati dan limpa”. (HR. Ibnu Majah)


3. Manfaat Mengonsumsi Makanan dan Minuman yang Halal 
Makanan dan minuman yang halalan thoyyibah atau halal dan baik serta bergizi tentu sangat berguna bagi kita, baik untuk kebutuhan jasmani dan rohani. Apabila makanan dan minuman yang didapatkan dari hasil yang halal tentu sangat berguna untuk diri kita dan keluarga kita. Hasil dari makanan minuman yang halal sangat membawa berkah, barakah bukan bererti jumlahnya banyak, meskipun sedikit, namun uang itu cukup untuk mencukupi kebutuhan sahari-hari dan juga bergizi tinggi. Bermanfaat bagi pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak. Lain halnya dengan hasil dan jenis barang yang memang haram, meskipun banyak sekali, tapi tidak barokah, maka Allah menyulitkan baginya rahmat sehingga uangnnya terbuang banyak hingga habis dalam waktu singkat. 

Seseorang yang sudah terbiasa mengonsmsi makanan dan minuman yang halal, maka dirinya akan memperoleh manfaat, di antaranya adalah. 
a. Terjaga kesehatnnya sehingga dapat mempertahankan hidupnya sampai dengan batas yang ditetapkan Allah Swt 
b. Mendapat ridha Allah Swt karena memilih jenis makanan dan minuman yang halal.
c. Rezeki yang diperolehnya membawa barokah dunia akhirat, serta mendapat perlindungan dari Allah Swt 
d. Membawa ketenangan hidup dalam kegiatan sehari-hari, dan itu tercermin kepribadian yang jujur dalam hidupnya dan sikap apa adanya. 
e. Memiliki akhlaqul karimah karena telah menaati perintah Allah Swt sekaligus terhindar dari akhlak madzmumah (tercela). 


Wednesday, April 1, 2020

SHOLAT DHUHA


Sholat dhuha merupakan salat sunah yang dikerjakan ketika matahari sudah setinggi tombak hingga menjelang masuknya waktu salat zuhur. Salat yang dikerjakan minimal dua rakaat ini juga mempunyai berbagai keutamaan jika dikerjakan.

Waktu menjalankan salat duha yaitu di antara dua salat wajib, setelah salat subuh dan sebelum salat zuhur. Namun, usai melaksanakan subuh, umat Islam mesti menunggu terbitnya matahari terlebih dahulu.

Pada dasarnya, terdapat dua waktu yang diharamkan untuk mengerjakan salat, yaitu setelah subuh hingga matahari terbit, dan setelah asar hingga matahari tenggelam. Diriwayatkan Abu Hurairah, "Sesungguhnya Rasulullah melarang dua salat; melarang salat setelah salat subuh hingga terbit matahari dan setelah asar hingga terbenam matahari." (H.R. Al-Bukhari).Waktu dhuha, yaitu ketika matahari telah terbit atau naik kurang lebih 7 hasta hingga terasa panas menjelang salat dzhur. atau sekitar jam 7 sampai jam 11, tentunya setiap daerah berbeda, tergantung posisi matahari pada daerah masing-masing. Salat dhuha sebaiknya dikerjakan pada seperempat kedua dalam sehari, atau sekitar pukul sembilan pagi. Salat dhuha dilakukan secara sendiri atau tidak berjamaah (Munfarid).Salat dhuha dilakukan dalam satuan dua rakaat satu kali salam. Sementara itu untuk berapa jumlah maksimal salat dhuha ada pendapat yang berbeda dari para ulama, ada yang mengatakan maksimal 8 rakaat, ada yang mengatakan maksimal 12 rakaat dan ada yang berpendapat tidak ada batasan.
 Rasulullah bersabda :
 عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ ، لَا أَدَعُهُنَّ حَتَى أَمُوتَ : صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلَاةِ الضُّحَى ، وَنَوْمِ عَلَى وِتْرِ ، متفق عليه
Dari Abi Hurairah Berkata: Kekasihku ( Rasullullah SAW ) berwasiat kepadaku dengan tiga perkara, agar jangan aku tinggalkan sampai aku mati: Puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan tidur dalam keadaan sudah melaksanakan shalat witir. (H.R. Bukhori Muslim)



Niat dan Jumlah Rakaat Sholat Dhuha

Sebelum menjalankan salat duha, terlebih dahulu didahului dengan niat untuk mengerjakannya. Niat tersebut dapat diucapkan dalam hati, dan dapat pula dilafalkan. Bacaan niat salat duha dapat dilafalkan seperti di bawah ini.

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatad dhuhā rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.

Artinya, "Aku menyengaja salat sunah duha dua rakaat karena Allah SWT."

Salat duha dikerjakan minimal dua rakaat. Namun, tidak ada larangan untuk menambah jumlah rakaat salat duha. Nabi Muhammad pernah melakukan salat duha 8 rakaat, berdasarkan riwayat Ummu Hani', "Nabi saw. pada tahun terjadinya Fathu Makkah beliau salat duha delapan rakaat.” (H.R. Bukhari).

Jika salat duha dikerjakan lebih dari dua rakaat, maka pengerjaannya diutamakan sekali salam untuk dua rakaat.

Doa Usai Sholat Dhuha

Setelah mengerjakan salat duha, maka dianjurkan pula untuk membaca beberapa doa sebagai berikut ini:


اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ

Allāhumma innad dhuhā’a dhuhā’uka, wal bahā’a bahā’uka, wal jamāla jamāluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka.

Artinya, "Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu."


اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَان بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Allāhuma in kāna rizqī fis samā’i fa anzilhu, wa inkāna fil ardhi fa akhrijhu, wa inkāna mu’siran (mu‘assaran) fa yassirhu, wa in kāna harāman fa thahhirhu, wa inkāna ba‘īdan fa qarribhu, bi haqqi duhā’ika wa bahā’ika wa jamālika wa quwwatika wa qudratika. ātinī mā atayta ‘ibādakas shālihīn.

Artinya, "Wahai Tuhanku, jika rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah. Jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah. Jika sukar atau dipersulit (kudapat), mudahkanlah. Jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah. Jika jauh, dekatkanlah dengan hak duha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang saleh."



Setelah kalian membaca dan melihat video di atas, kerjakan tugas dengan klik link dibawah ini !